Saturday, 27 July 2013

KRISTEN TAUHID

SEJARAH KRISTEN TAUHID
             Tidak begitu jelas kapan dan bagaimana sejarah kemunculan, pendirian dan penyebaran Kristen Tauhid di Indonesia.[1] Dari sejumlah literatur yang diterbitkan, baik oleh kalangan ini[2] maupun oleh pengritiknya,[3] hanya didapati sejumlah tokoh kunci dari kelompok ini.  Herlianto menyebutkan tiga nama yang menurutnya “pelopor gerakan” Kristen Tauhid, yaitu Frans Donald, Ellen Kristi dan Tjahyadi Nugroho. Frans Donald adalah seorang mantan jemaat gereja Katolik Roma. Ia mengaku pernah berkelana berpindah-pindah agama, salah satunya adalah Saksi Yehuwa, sebelum akhirnya memeluk ajaran Kristen Tauhid. Tokoh kedua, Ellen Kristi, adalah seorang mantan anggota Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh yang berprofesi sebagai dosen di Universitas Diponegoro. Dia alumnus sarjana hukum Universitas Diponegoro dan Magister Filsafat Universitas Gajah Mada. Sementara Tjahyadi Nugroho, ayah Kristi, adalah Ketua Assosiasi Pendeta Indonesia yang merupakan organisasi pendeta-pendeta dalam kelompok Kristen Tauhid.
            Kristen Tauhid merupakan kelompok yang menganut paham atau ajaran Unitarian, salah satu paham sekte Kristen yang bermula di Eropa dan Amerika. Sehingga dapat dilihat bahwa sesungguhnya ajaran yang dianut Kristen Tauhid bukanlah ajaran “asli” Indonesia. Akan tetapi di Indonesia ajaran kelompok ini mengalami kontekstualisasi berupa sintesa dengan ajaran agama Islam. Hal ini tampak dalam seringnya penggunaan ayat-ayat Al Quran untuk membuktikan konsep Allah dalam buku-buku yang mereka terbitkan.[4]
            Karena paham Kristen Tauhid berasal dari paham Unitarian, maka baik pula melihat sejarah gerakan ajaran Unitarian ini. Sebagai sebuah ajaran teologis ajaran unitarian pertama kali tampil dalam sejarah kekristenan ketika Arius, seorang Presbiter yang hidup di wilayah keuskupan Aleksandria pada abad kedua, menyatakan keyakinannya yang menolak keilahian Kristus dan bersikukuh menyatakan keesaan pribadi dan natur Allah. Sekalipun ajarannya ditolak dan tulisan-tulisannya tidak dapat ditemukan kembali, benih-benih ajaran Arius ini terus hadir dalam sejarah. Hingga akhirnya tercatat kembali tokoh yang sepaham dengan Arius ini pada abad  ke-16, sezaman dengan reformasi yang dicetuskan Luther.
            Terdapat dua tokoh penting ajaran unitarian di zaman Reformasi, yaitu Michael Servetus dan Faustus Socianus.[5] Michael Servetus adalah seorang dokter dan teolog asal Spanyol[6] yang hidup pada tahun 1511-1553.[7] Servetus menyangkal status Yesus sebagai Anak Allah dan pada tahun 1531 dia menulis sebuah tulisan yang menentang doktrin Tritunggal berjudul On the Errors of the Trinity in Seven Books.[8] (1531). Karena buku tersebut Servetus dikejar-kejar oleh gereja (Katolik?) hingga ia harus melarikan diri menuju Perancis. Dia dapat meloloskan diri dari kejaran gereja selama beberapa dekade, namun kemudian ia dihukum mati pada tahun 1553 oleh Yohanes Kalvin. Sementara itu Faustus Socianus yang hidup pada tahun 1539-1604 berimigrasi ke Polandia “dalam mencari kebebasan agama.” Socinus percaya bahwa Alkitab harus ditafsirkan secara rasional. Dia percaya Allah adalah satu esensi dan esensi ini memiliki satu pribadi, yaitu Bapa.[9]
            Kepercayaan mereka yang bercorak Arianisme akhirnya menyebar ke Inggris. Seorang tokoh lulusan Oxford, John Biddle yang hidup tahun 1615-1662, menjadi pelopor gerakan ini bahkan dikenal sebagai Bapak Unitarian Inggris. Dia menulis buku berjudul A Confession Of Faith Touching The Holy Trinity According To The Scripture. Biddle dibuang karena kepercayaan sesatnya dan meninggal di penjara tahun 1662.[10] Pada abad 18 ajaran unitarian ini akhirnya mulai mendapat penerimaan, dimana ketika itu banyak orang yang sebelumnya telah memeluk paham rational supernaturalis dan deist menerima ajaran Unitarian.[11] Para pemeluk ajaran Unitarian ini kemudian memiliki organisasi sendiri ketika Theophilus Lindsey (1723-1808) mendirikan sebuah gereja di London, Essex Street Chapel, pada tahun 1773.[12]
            Perlahan tapi pasti ajaran unitarian masuk ke benua Amerika di antara koloni-koloni Inggris. Pada akhir abad 18 ajaran unitarian diterima oleh 125 jemaat kongregasional di New England. Sejak saat itu ajaran unitarian terus bertahan bahkan berkembang mempengaruhi institusi-institusi pendidikan teologi ternama, seperti Harvard Divinity School. Di kemudian hari gereja unitarian ini bergabung dengan gereja universalis. [13]

Dasar Kepercayaan Kristen Unitarian Indonesia[14]
1.    Kami percaya kepada satu-satunya Allah yang benar, YHWH (Yahweh), Allahnya Abraham dan Israel, yang diperkenalkan Yesus sebagai Bapa. (Kel. 3:14,15; Ul. 6:4; Mzm. 139:7; Mat. 6:9; Mrk. 12:29; Yoh. 17:3; Kis. 3:13; 1 Tim. 6:16)
2.    Kami percaya kepada Yesus Kristus, anak Allah, permulaan ciptaan, malaikat perjanjian, yang lahir dari perawan Maria, hidup tanpa dosa, mati disalib, dikuburkan dan dibangkitkan Allah, yang ditinggikan Bapa menjadi Tuan, Kristus dan Juruselamat, naik ke Surga dan akan datang kembali dalam kemuliaan. (Mikh. 5:1-3; Mal. 3:1; Mat. 1:23; 3:16-17; 12:40; 16:16; Yoh. 3:16; 17:3; Kis. 1:11; 2:36; 5:31; 1 Kor. 15:3-5; 1Ptr. 2:22-23; Why. 3:14)
3.    Kami percaya kepada Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang inti perintahnya adalah kasih kepada Allah dan kepada sesama manusia, yang telah dijabarkan di dalam kesepuluh perintah Allah. (Kel. 20:1-17; Yes. 45:23; Mat. 4:4,10; 5:17-10; Yoh. 10:35; 12:48; Ef. 6:17; 2Kor. 1:13; 2 Tim. 3:16-17; Ibr. 1:1)
4.    Kami percaya kepada Injil, yaitu kabar baik bahwa manusia dapat diampuni Allah dan dibebaskan dari dosa, dan beroleh pengharapan atas kehidupan yang kekal. (Yoh. 1:12; 3:16; 11:12; 25-26; Rm. 1:16; Ef. 4:13; 1Tim. 2:5; Ibr. 2:14,15)
5.    Kami percaya kepada Roh Kudus, kuasa Allah, yang menyanggupkan manusia melakukan kehendak Allah. (Yoh. 1:12; 14:16, 26; 15:26; 16:8-3; Ef. 3:9; 2Ptr. 1:3-4)
6.    Kami percaya kepada perubahan hidup yang harus menyertai baptisan air, sebagai pengakuan iman, sehingga setiap orang percaya harus menjadi terang dalam kehidupan sehari-hari. (Mzm. 1:2; Yeh. 4:34; 13:13-15; Mat. 5:14-16, 48; Luk. 12:8; Yoh. 14:15; Rm. 12:1-2; 1Kor. 6:19; Gal. 2:20; Flp. 2:5; Ibr. 12:14; 1Yoh. 5:3; Why. 14:12)
7.    Kami percaya bahwa Allah menyelamatkan setiap orang yang bersih tangannya dan suci hatinya, dan bahwa iman adalah hubungan pribadi antara seseorang dengan Allah, yang didasarkan hati nurani, akal sehat, dan pengalamannya, tanpa kekerasan dan pemaksaan. (Yeh. 14:14; Yos. 24:15; Ul. 11:26-28; Mat. 5:9,14-16; 7:2,3-23; 22-37, 39; Luk. 10:25-37)

Pengajaran Roh Kudus menurut Kristen Tauhid
Pandangan Kristen Tauhid mengenai Roh Kudus tidak terlalu berbeda dengan pandangan Saksi-saksi Yehuwa. Roh Kudus diartikan sebagai kekuatan, energi atau tenaga aktif yang keluar dari Allah. Roh Kudus ditolak sebagai Oknum Allah dan juga ditolak sebagai Oknum berpribadi.[15]
Menurut Kristen Tauhid, doktrin tentang Roh Kudus sebagai pribadi ketiga Allah baru dicetuskan pada Konsili Konstantinopel tahun 381. Dalam Konsili itu ditetapkan bahwa Roh Kudus adalah “sang Tuhan, Pemberi Hidup, Yang ada dari Bapa, dan bersama dengan Bapa dan Anak, Dia harus disembah dan dimuliakan.” Sejak saat itu, Roh Kudus menjadi pribadi ketiga dari KeAllahan dengan dukungan penuh Kaisar Theodius I.
            Aliran Kristen Tauhid memahami kata Roh dalam berbagai macam makna, antara lain: nafas (Ayb. 27:3), pribadi-pribadi yang mulia (Ibr. 1:14), pikiran/ kehendak (1 Kor. 2:11), Kuasa (Yl. 2:28), kuasa yang keluar dari Allah Bapa (Yoh. 15:26). Sekalipun memiliki berbagai personifikasi, Roh Kudus dilihat bukan sebagai pribadi khusus, dan bukanlah pribadi ketiga dari Keallahan. Bagi mereka, Alkitab jelas menyatakan bahwa Allah hanyalah Bapa, dan Yesus sebagai Tu(h)an (1Kor. 8:6), sedangkan Roh Kudus adalah kuasa Allah yang aktif bekerja untuk kebaikan manusia.
Berikut dukungan-dukungan Alkitab yang dipakai oleh Kristen Tauhid yang memaparkan betapa lemahnya pandangan Roh Kudus sebagai pribadi Allah ketiga apabila kita mengacu kepada Alkitab : [16]
1.  Allah memiliki nama yaitu Yahweh (Keluaran 3:15), dan Kristus memiliki nama yaitu Yesus (Lukas 1:31,32). Tetapi siapakah nama Roh Kudus ?
2. Ketika Yesus mengungkapkan kedekatanNya dengan Allah, maka Dia menyatakan : “… tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak …” (Matius 11:27). Mengapa Roh Kudus tidak mengenal Anak ? Atau mengapa Roh Kudus tidak mengenal Bapa ?
3. Salam yang dituliskan oleh Paulus kepada setiap jemaat yang menerima suratnya menyebutkan Bapa dan Yesus tetapi mengapa tidak menyebutkan Roh Kudus ?
4. Mengapa meterai bagi orang percaya yang menang di akhir zaman hanyalah meterai dari nama Bapa dan nama Yesus (Wahyu 14:1) ?
5. Mengapa Rasul Paulus menyatakan bahwa Kerajaan itu adalah Kerajaan Allah dan Kristus, dan tidak memasukkan Roh Kudus ke dalamnya (Efesus 5:5) ?
6. Mengapa hanya ada 2 tahta, dan Roh Kudus tidak mendapat tahta (Wahyu 22:1) ?
7. Mengapa ada 7 Roh Allah (Wahyu 4:5) ?
8. Sebenarnya Roh Kudus itu Roh Allah atau Roh Kristus (Roma 8:9) ?
9. Jika Roh Kudus adalah pribadi mengapa, Roh yang ada pada Musa bisa dibagi-bagi dengan para penatua Israel yang lain (Bilangan 11:17) ?

Evaluasi
1.      Allah bernama Yahweh Kel 3:15, Yesus punya nama (Lukas 1:31) tapi Roh Kudus tidak punya nama, maka dari itu Roh Kudus bukan pribadi. 
Ø  Mengatakan bahwa pribadi harus mempunyai nama spesifik agaknya melihat pribadi roh kudus dengan tidak adil.  Ketika kita mengatakan adonai, kita bisa langsung mengaitkannya dengan allah bapa di PL.  padahal kita tidak mengatakan yahweh.  Adonai sebagai sebutan, maka parakletos juga dapat kita lihat sebagai sebutan.  Lagipula ruah dalam ibrani adalah merupakan sebutan bagi roh kudus.  Jadi bukan berarti roh kudus tidak dinamakan maka dia bukan pribadi.  Kalau saya tidak tahu nama kamu, apakah berarti kamu bukan orang?  Apabila saya tidak tahu nama roh kudus lalu roh kudus bukan pribadi?  Dalam amanat agung, Yesus mengatakan untuk membaptis orang dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.  Kalimat ini bisa berarti, dalam nama Bapa, dalam nama Anak dan dalam nama Roh Kudus.  Jadi tidak tepat jika mengatakan Roh Kudus bukan pribadi karena tidak bernama.
2.      Matius 11:27; Yesus dekat dengan Bapa melebihi siapapun, hanya anak yg mengenal bapa; kalau begitu Roh Kudus tidak mengenal Bapa dan Roh Kudus tidak berada pada satu level yg sama.
Ø  Konteks ayat ini adalah otoritas Yesus untuk mewahyukan Bapa.  Tidak ada statement valid bahwa Roh Kudus tidak ikut mewahyukan mengenai Bapa dalam konteks ini.  Roh Kudus malah menjadi kesaksian internal akan pewahyuan Allah melalui Yesus dan melalui alkitab.  Jadi kritik Tauhid dalam teks ini tidak memperhitungkan konteks.  Ayat ini adalah bagian dari konfirmasi keilahian Yesus.     
3.      Salam paulus kepada jemaat tidak menyertakan roh kudus
Ø  Istilah trinitas muncul belakangan.  Bisa jadi paulus belum merumuskan trinitas, namun pengajarannya mengenai Roh Kudus sebagai pribadi sangat kental.  Dalam 2 kor 3:17, Paulus mengatakan bahwa  the lord is the spirit.  Maka kita bisa mengatakan bahwa the spirit is the lord.  Ho kurios adalah ho pneumatos, ho pneumatos adalah ho kurios. 
4.      Wahyu 14:1; materai hanya atas nama Bapa dan Yesus, tidak ada Roh Kudus
Ø  Kalau begitu bagaimana kita menafsirkan wahyu 22:17?  The spirit and the bride say, come; visi Bapa dan Yesus bersebelahan muncul dalam konteks pembuktian keilahian Yesus.  Dalam Wahyu 22:17 malah The Spirit ditunjukkan sebagai pribadi bukan sebagai sekedar kuasa.  Kata kerja legousin juga merujuk pada kata ganti orang  yang jamak.  Dengan demikian Wahyupun menyajikan Ho Pneuma sebagai seorang pribadi.  Soal kenapa Roh Kudus tidak muncul di tahta, itu karena konteks tahta selalu bicara soal keilahian Yesus. 
5.      Efesus 5:5; Paulus mengatakan bahwa Kerajaan adalah milik Bapa dan Yesus, Roh Kudus tidak masuk.
Ø  Efesus 4:30 Paulus bilang dosa kita membuat Roh Kudus sedih.  Berarti yg sedih cuma Roh Kudus, Bapa sama Yesus tidak sedih.  Ini adalah argument from silence, Paulus tidak eksplisit mengatakan bahwa Roh Kudus bukan allah.  Dia hanya menyebut kerajaan Yesus dan Bapa, bukan “kerajaan bukan milik roh kudus”. 




DAFTAR PUSTAKA

Herlianto. Kristen Tauhid, Siapa dan Bagaimana Ajaran Mereka?. Tanpa tempat: Penerbit Mitra Pustaka, 2007.
Smith, Jonathan Z. (ed.). HarperCollins Dictionary of Religion. New York, NY: HarperCollins,1995.
Rhodes, Ron. The Challenge of the Cults and New Religion. Grand Rapids, MI: Zondervan, 2001.
Nichols, Larry A., Matter, George A. dan Schmidt, Alvin J. Encyclopedic Dictionary of Cults, Sects, and World Religions. Grand Rapids, MI: Zondervan, 2006.

DAFTAR RUJUKAN




[1]Organisasi gereja yang memeluk ajaran ini adalah Gereja Jemaat Allah Global Indonesia (GJAGI). Herlianto, Kristen Tauhid, Siapa dan Bagaimana Ajaran Mereka? (Tanpa tempat: Penerbit Mitra Pustaka, 2007) 6   
[2]Cukup minim jumlahnya dan kebanyakan serupa traktat atau buku kecil dan tipis. 
[3]Sejauh ini baru diketahui satu buku yang khusus diterbitkan untuk mengkritik ajaran ini. 
[4]Herlianto, Kristen Tauhid 24.
[5]Jonathan Z. Smith (ed.), Harper-collins dictionary of religion (New York, NY: HarperCollins,1995) 1109
[6]Herlianto, Kristen Tauhid 14
[7]Smith (ed.), Harper-collins dictionary of religion 1109
[8]Ron Rhodes, The Challenge of the Cults and New Religion (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2001) 232
[9]Rhodes, The Challenge  232
[10]Rhodes, The Challenge  232-33
[11]Larry A. Nichols, George A. Matter dan Alvin J. Schmidt, Encyclopedic Dictionary of Cults, Sects, and World Religions (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2006) 308
[12]Rhodes, The Challenge  233
[13]Rhodes, The Challenge  234-35
[14]http://kristentauhid.blogspot.com diunduh 16 November 2012.
[15]Herlianto. Kristen Tauhid: Siapa dan Bagaimana Ajaran Mereka (Bandung: Penerbit Mitra Pustaka, 2007), 53.
[16]http://kristentauhid.blogspot.com diunduh 16 November 2012.

KARAKTERISTIK REMAJA (mengenal remaja dan mengenal diri)

KARAKTERISTIK EMOSI REMAJA
Topik mengenai karakteristik emosi remaja adalah topik yang sangat menarik untuk dibahas karena berbicara tentang keaneka-ragaman gejolak yang terjadi dalam diri anak remaja. Mulai dari gejolak emosi kesenangan, kesedihan, kemarahan, hingga gejolak emosi cinta terhadap sesuatu (apapun itu). Namun, gejolak emosi yang timbul dalam kehidupan remaja itu hanya bersifat sementara dan cenderung berubah-ubah, seperti sebuah yoyo yang hanya sebentar berada di bawah kemudian naik lagi.
Secara tradisional, masa remaja dapat dikatakan sebagai periode penuh dengan “badai dan tekanan”. Maksudnya adalah anak remaja mengalami suatu masa di mana ia berusaha untuk mencari dan menampilkan keaslian dirinya (atau yang sering kita sebut sebagai masa pencarian jati diri). Dalam pencarian jati dirinya, banyak anak remaja yang kemudian menjadi stres dan merasa tertekan. Perasaan tertekan itu sebenarnya muncul dari masalah-masalah yang tidak dapat diatasi remaja dengan bantuan dirinya sendiri, salah satu masalahnya adalah masalah emosi.
Adapun masalah-masalah dalam perkembangan emosi remaja pada umumnya yang dihadapi oleh remaja adalah sebagai berikut:
1.      Emosi yang cepat berubah
Ada seorang anak remaja yang memiliki seekor anjing peliharaan yang sangat ia sayangi. Suatu kali anjing itu datang ke depan rumah untuk menyambut kedatangan ibu dari si anak remaja. Tanpa sengaja, sang ibu melindas mati anjing kesayangan anaknya. Melihat hal ini, anak remaja tadi berkabung luar biasa dan memutuskan untuk membenci mamanya. Setelah anak tersebut bertumbuh menjadi dewasa, si anak pun melupakan perasaan kehilangannya, bahkan ia menjadi heran dengan reaksi yang ditimbulkannya pada saat itu.
Sensitivitas dan kepekaan yang sangat tinggi pada masa remaja menyebabkan labilnya ekspresi emosi yang timbul, seperti yang tergambar dalam cerita di atas.
2.      Takut penolakan
Para remaja sangat senang berkumpul dengan orang-orang yang memiliki kesamaan tertentu dengan mereka dimana mereka diterima didalamnya; entah itu kesamaan dalam hal fisik, sosial, gaya hidup,  gender, dll. Selain itu, ketakutan akan penolakan membuat seorang remaja rela melakukan apa saja untuk diterima oleh komunitas yang dirasa cocok dengannya. Beberapa dari mereka bahkan tidak segan-segan melakukan tindak kriminal dan amoral demi diterimanya mereka dalam suatu kelompok. Kondisi ini menyebabkan timbulnya eksklusivisme dan fanatisme, bahkan hal ini akhirnya menjadi sesuatu yang biasa di mata para remaja.
3.      Salah menanggapi keberadaan dirinya
Para remaja sering memandang dirinya sendiri dalam dua ekstrim, yaitu merendah dan meninggikan diri. Remaja yang memandang dirinya rendah cenderung menjadi pribadi  yang tidak percaya diri dan tidak mau menerima diri; sedangkan remaja yang memandang dirinya tinggi cenderung menjadi pribadi yang sombong dan selalu memandang orang lain lebih rendah dari dirinya sendiri.
Di sisi lain, para remaja juga sangat merasa nyaman untuk meniru orang-orang lain yang dianggapnya sebagai “model” yang baik bagi dirinya. Misalnya: mengikuti gaya berpenampilan, gaya bicara, gaya hidup, dan sebagainya.
4.      Tidak Realistis
Remaja awal cenderung melihat dirinya dan orang lain sebagaimana yang ia inginkan, bukan sebagaimana adanya. Karena kecenderungan ini maka banyak remaja menjadi marah ketika ia tidak mendapati dirinya atau orang lain tidak seperti yang ia inginkan. Realitas keberadaan dirinya dan orang lain ini menyebabkan mereka menjadi pribadi-pribadi yang mudah kecewa dan stress.

Penyebab masalah emosi pada masa remaja:
1.      Perubahan status mempengaruhi emosi seorang remaja, karena mereka saat ini sedang berada dalam masa transisi atau biasa juga disebut perpanjangan dari masa anak-anak. Ketika  mereka akan meninggalkan masa anak-anak dan menuju masa dewasa, mereka akan mengalami konflik batin dan ketidak-jelasan identitas diri, masih kanak-kanakkah mereka atau telah dewasa.  Perasaan-perasaan belum jelas ini sering membawa mereka dalam kegelisahan-kegelisahan internal; misalnya timbul rasa tertekan, kesal hati, ingin marah, mudah tersinggung, canggung dalam mereka bergaul.
2.      Pengaruh komunitas dalam perkembangan emosi remaja. Pada masa ini mereka sedang senang-senangnya berada dalam kelompok/komunitas yang sebaya dengan mereka baik itu kesamaan hobi atau gender, disinilah biasanya seorang remaja emosinya terbentuk tergantung dari komunitas yang mereka pilih sebagai contoh ketika seorang bergabung dengan kelompok remaja yang suka tawuran maka emosinya pun akan menjadi seorang remaja yang agresif begitu pun sebaliknya.  Jadi pengaruh komunitas punya andil besar bagi perkembangan emosi seorang remaja.
3.      Pengaruh penerimaan dan pengakuan. Pada masa ini remaja membutuhkan penerimaan dan pengakuan karena mereka sedang berada dalam masa transisi yang tidak jelas apakah mereka sudah melewati masa anak-anak dan sudah menjadi dewasa.  Karena kurangnya penerimaan dan pengakuan inilah seorang remaja biasanya mencari pengakuan tersebut dari kelompok-kelompok sebaya dengan mereka, disinilah bahayanya apabila mereka salah dalam memilih kelompok. 
4.      Pengaruh pertumbuhan fisik. Tidak dapat disangkal lagi bahwa faktor pertumbuhan fisik mengambil peran yang cukup berpengaruh dalam masa perkembangan emosi remaja. Contohnya saja seorang anak laki-laki remaja yang memiliki tinggi badan yang lebih pendek dibanding dengan teman-teman sebayanya, akan selalu merasa frustasi dengan penampilannya yang demikian. Remaja itu akan berusaha untuk menjadi minimal seperti teman-temannya.

Adapun solusi untuk permasalahan emosi remaja adalah sebagai berikut:
-          Komunitas yang sehat
Komunitas merupakan salah satu faktor penting yang akan mempengaruhi perkembangan emosi dan membentuk kepribadian seorang remaja. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, kita tahu bahwa masa remaja adalah masa dimana kebutuhan akan penerimaan dan pengakuan dari orang-orang disekitar merupakan hal yang sangat penting. Sehingga komunitas yang sehat merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh lingkungan para remaja. Komunitas yang dimaksud adalah komunitas yang menerima si remaja sebagaimana dia ada dan menghargai eksistensinya. Dengan demikian si  remaja tidak akan mengalami ketakutan akan penolakan dan tidak akan berusaha mencari komunitas yang salah untuk memenuhi kebutuhannya tersebut. Komunitas yang dimaksud adalah keluarga, sahabat, kelompok kecil, kelompok besar, teman sebaya di sekolah maupun di gereja atau lingkungan bergaul lainnya (misal: Gereja).
-          Pembimbing 
Menyadari bahwa kita saat ini sedang hidup pada zaman postmodern, teknologi yang terus berkembang, keterbatasan orang tua, guru dan pembimbing dalam mengawasi kehidupan para remaja kita harus dengan rendah hati mengaku mustahil kita dapat menyediakan komunitas yang sehat bagi para remaja pada zaman ini. Karena itu selain menerima keberadaan mereka secara utuh, sebagai orang tua, guru atau pembimbing bagi para remaja adalah penting bagi kita untuk menolong mereka mengenali diri mereka, menyelami perasaan mereka, memahami fase-fase pertumbuhan dan pergumulan-pergumulan yang akan mereka hadapi pada masa-masa remajanya. Membimbing dan menemani mereka melalui proses perkembangannya dalam terang Firman Tuhan. Karena Mazmur 119:109 berkata : “Dengan apakah seorang muda dapat mempertahankan kelakukannya bersih? Dengan menjaganya  sesuai dengan firman-Mu.” Tidak hanya itu kita juga perlu terus mengikuti perkembangan gaya hidup dan pergumulan para remaja pada zaman ini agar, tindakan-tindakan yang kita ambil dalam membimbing mereka relevan dan efektif.


Sumber:
James Dobson, Menjelang masa remaja.
Bambang Mulyono, Mengatasi kenakalan remaja.
Stephen & Jim Burns, Arahkan dengan jitu.
Elizabeth Hurlock, Psikologi Perkembangan.

John Santrock, Adolescence: Perkembangan Remaja.